Jakarta – Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi menganggap kerusuhan suporter hingga korban meninggal sebagai pukulan berat. Dia mengakui ada yang tak beres dengan PSSI.

Kerusuhan suporter antarklub dan sesama klub bukan kali ini terjadi. Terbaru, peristiwa bentrok sesama Boboth yang berujung meninggalnya Ricko Andrean. Dia meninggal dunia di Rumah Sakit Santo Yusuf, Bandung, Kamis (27/7/2017), sekitar pukul 10.10 WIB setelah dipukuli oleh boboth lain pada pertandingan Persib Bandung dengan Persija Jakarta di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kamis (27/7).

Insiden itu membuat Kemenpora turun tangan. Bersama PSSI dan suporter se-Indonesia, Kemenpora menggelar Islah Suporter di Audiotorium Kemenpora, Senayan, Jakarta, Kamis (3/8).

Dalam acara tersebut terdapat 99 orang perwakilan dari berbagai klub suporter seperti Persiba Bantul, Pusamania, Persita, Sriwijaya FC, Semen Padang, PS TNI, Persita, dan klub-klub lainnya. Sementara, tiga klub dengan massa besar seperti bonek, bobotoh, dan The Jakmania, absen.

Edy berbesar hati mengakui jika peristiwa itu memaksa PSSI untuk berintrospeksi. Dia bilang kerusuhan suporter yang berulang menjadi indikasi kuat PSSI tak serius menanganinya.

“Paling tidak, apresiasi yang dilakukan Bapak Menteri ini akan kami lanjutkan. Ini sinisme kepada PSSI karena kenapa terjadi begini terus. Jadi memang PSSI-nya yang kurang becus, bukan karena suporternya atau klubnya. Ke depan akan kami perbaiki ini,” kata Edy.

Edy menambahkan ke depan dirinya akan kembali mengumpulkan para suporter untuk membicarakan lebih lanjut terkait masalah ini. Termasuk tiga klub suporter Persib Bandung, Persebaya, dan Persija Jakarta, yang tidak ikut menghadiri islah hari ini.

“Secara teknik akan kami kumpulkan kembali para suporter, kami akan bicara. Kami akan panggil (bobotoh, bonek, dan the jak) makanya harus yang berkompeten. Siapa sih sebenarnya intinya ini, kami akan selesaikan,” ucap dia.

(mcy/fem)