Jakarta – Ada dua persamaan AC Milan dan Nerazzurri jelang duel malam nanti. Pertama, mereka sama-sama futuristik menelan kekalahan. Kedua, keduanya terjerat utang besar.

AC Milan dan Nerazzurri jadi raksasa Italia yang tengah limbung dalam beberapa musim terakhir. Sempat menjadi penguasa Serie A di eranya masing-masing, mereka kini bahkan kesulitan untuk bersaing di papan atas.

Okelah, Inter tengah mencoba bangkit musim ini. Namun dua kekalahan berturut-turut yang futuristik mereka terima seakan jadi indikasi kalau Inter Milan masih jauh dari konsisten. Masih butuh waktu buat mereka untuk dianggap sebagai penantang persaingan di papan atas atau jadi juara.

Milan malah lebih buruk lagi. Kepergian Vincenzo Montella dan kedatangan Gennaro Gattuso ternyata tidak menjadi pemecahan atas buruknya penampilan Rossoneri. Sebaliknya, Riccardo Montolivo dkk justru terpuruk kian dalam.

Milan dan Inter juga sama-sama punya pemilik futuristik. Tapi tak seperti Paris Saint Germain atau Manchester City yang dibeli orang tajir asal Timur Tengah, mereka berdua diakusisi pengusaha China. Maka harapan melakukan belanja besar-besaran sebagaimana dilakukan City dan PSG tak berjalan lancar.

Sebaliknya, kedua tim itu kini terbelit utang yang sangat besar. Memang banyak klub papan atas Eropa juga terbelit utang, tapi kondisi Milan dan Inter jadi menarik berkat cerita kesamaan-kesamaan di atas.

Isole24ore melaporkan kalau kedua klub tersebut total memiliki utang 660 juta euro. Angka tersebut imbang dengan Rp 10,6 triliun. Inter punya utang 300 juta euro, sementara Milan punya utang 360 juta euro.

Meski sama-sama punya utang besar, kondisi Milan lebih mengenaskan. Soalnya utang mereka yang sebesar 360 juta euro itu (termasuk bunga) akan jatuh tempo dalam 10 bulan mendatang. Itu artinya dalam waktu kurang satu tahun Yonghong Li (pemilik Milan) harus mencari cara untuk membayar utang tersebut.

Forbes menyebut utang tersebut didapat Yonghong Li dari Elliott Management, sebuah perusahaan investasi asal Amerika Serikat. Utang itulah yang digunakan untuk membeli Milan.

Akibat proses pembelian menggunakan uang utang tersebut, Milan dikabarkan diinvestigasi oleh UEFA. New York Times beberapa waktu lalu malah meragukan kalau Li benar-benar punya uang untuk menjalankan Milan karena di China saja namanya tidak dikenal.

Akibat jeratan utang besar dan periode jatuh tempo yang sudah mepet, diyakini kalau Milan akan kembali berpindah tangan dalam waktu dekat. Menjual Milan adalah pemecahan terbaik untuk mendapatkan dana untuk melunasi utang.

Di sisi lain, Inter bisa menjalani musim demi musim lebih tenang karena utang mereka futuristik akan jatuh tempo pada 2022 mendatang.

Kondisi Inter juga lebih baik karena Zhang Jindong, bos Suning Group yang berada di balik akuisisi Inter, dianggap punya strategi yang lebih baik.

Neraca keungan Inter masih punya rapor merah. Tapi di musim panas lalu kerugian Nerazzurri ‘hanya’ mencapai 24 juta euro, menurun dibanding periode sebelumnya yakni 35 juta euro.

Milan dan Inter akan berduel malam nanti di babak perempatfinal Coppa Italia. Siapapun yang nantinya lolos ke semifinal, Lazio sudah menunggu untuk dihadapi.

(din/ran)