Banjarmasin – Jacksen F. Tiago dibuat menangis oleh Bonekmania momen disambut kembali ke Surabaya. Sambutan yang tak bisa diukur dengan uang dan trofi.

Jacksen adalah salah satu pemain yang membuat sejarah besar di klub Persebaya Surabaya. Dia pertama kali merasakan gelar juara di sepakbola Indonesia sersama Bajul Ijo setelah sebelumnya dua kali berturut-turut gagal di Petrokimia Putra dan PSM Makassar.

Kehadiran pria asal Brasil itu juga membantu Persebaya menjadi raja sepakbola di Indonesia pada 1996/1997 untuk pertama kalinya pada era Ligina (Liga Indonesia). Jacksen juga keluar sebagai top skorer kala itu dengan 26 gol.

Setelah gantung sepatu pada 2001 di Petrokimia, Jacksen melanjutkan karier sebagai pelatih. Karier kepelatihan dimulai di Surabaya dengan membesut Assyabaab Surabaya pada 2002.
Setahun kemudian dia kembali ke Persebaya sebagai pelatih. Setelah membawa Persebaya promosi pada 2003, Jacksen langsung membuat pencapaian hebat di tahun 2004.

Dia mengantarkan Persebaya menjadi juara Liga Indonesia di musim itu, berjarak tak sampai sewindu dari momen Jacksen meraih juara bersama Persebaya sebagai pemain.

Jasa-jasa Jacksen setelah meninggalkan Persebaya pada 2005 tak dilupakan begitu saja. Dalam laga tandang Barito Putera, Minggu (8/4/2018), ke klub asal Kota Pahlawan itu berujung haru dan tak terduga.

Jacksen, yang datang sebagai rival dengan membawa gerbong Barito, mendapat sambutan hangat. “Piye… piye.. piye kabare… piye kabare Jacksen Tiago?” begitu lantunan nyanyian dari para Bonekmania–suporter Persebaya–yang membuat suami dari Nadira Bajamal tak kuasa menahan air mata di Stadion Gelora Bung Tomo.

[Gambas:Instagram]

Dalam kunjungan detikSport ke Stadion 17 Mei, Banjarmasin, beberapa minggu lalu, Jacksen menceritakan betapa mahalnya kejadian sambutan itu untuk dirinya, yang merupakan warga asing.

“Jujur. Itu satu kejadian yang sangat luar biasa di mata saya. Mungkin tidak banyak orang asing di sini yang bisa mendapat kejadian seperti itu,” kata Jacksen yang mulai menjelaskannya dengan menarik napas panjang.

“Mungkin, jika kamu pergi ke negara orang, terus di negara tersebut kamu mendapat sebuah sambutan seperti yang saya dapat di Surabaya, orang bisa apresiasi dan kamu melihat dengan matamu bagaimana respek orang terhadap kinerjamu itu, saya rasa itu tidak ada uang yang bisa menggantinya,” sambungnya.

Momen dimintai untuk menggambarkan suasana yang emosional pada momen itu, mata Jacksen tampak berkaca-kaca. Dia menegaskan bahwa kejadian itu tak bisa diukur sama sekali. Itu adalah kejadian yang akan dibawa sampai kapanpun oleh ayah dari Hugo Samir.

“Bukan apa-apa, tapi itu sebuah hal yang bisa kita bawa sampai kapanpun. Uang bisa habis, tapi kejadian itu menunjukkan sebuah respect. Di negara saya pun saya tidak pernah dapat. Tidak ada gelar apapun yang saya dapat di Indonesia bisa ditukar dengan kejadian itu. Itu sangat langka dalam hidup saya dan akan saya bawa sampai kapanpun,” tutur Jacksen.

“Satu kota, satu stadion apresiasi kamu seperti itu. Pffftt…. Jika kamu pergi ke negara dan satu kota apresiasi kamu, maka kamu akan tahu apa yang saya rasakan.”

(ran/mrp)